Kembali

Local

Sejarah Musik Tong-Tong Sumenep dari Tradisi ke Festival Tahunan

Musik Tong-tong awalnya digunakan untuk membangunkan sahur, kini berkembang menjadi festival tahunan. Dimainkan dengan kentongan, gendang, dan gong di atas kereta hias.

Admin Madura FM 18 Jun 2026 - 4 menit baca
Sejarah Musik Tong-Tong Sumenep dari Tradisi ke Festival Tahunan
Artikel pilihan redaksi On Air
Local Madura FM 102.1

Musik Tong-tong awalnya digunakan untuk membangunkan sahur, kini berkembang menjadi festival tahunan. Dimainkan dengan kentongan, gendang, dan gong di atas kereta hias.

Musik Tong-tong Sumenep bukan sekadar bunyi kentongan biasa, tapi sudah jadi bagian dari tradisi yang hidup di masyarakat. Awalnya digunakan untuk membangunkan sahur, kesenian ini terus berkembang hingga menjadi pertunjukan yang lebih meriah dan penuh kreativitas. Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi sederhana pun bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar tanpa kehilangan ciri khasnya.

Asal Usul Musik Tong-Tong di Sumenep

Pada awalnya, Musik Tong-tong hanya dikenal saat bulan Ramadhan dalam bentuk musik patrol. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh para pemuda untuk membangunkan warga saat sahur dengan menggunakan alat sederhana seperti kentongan, bambu dan berbagai benda bekas. Saat itu, fungsinya lebih sebagai penanda waktu dan alat komunikasi, belum menjadi hiburan seperti sekarang.

Seiring berjalannya waktu, musik patrol mulai berkembang menjadi Musik Tong-tong modern atau yang dikenal dengan Ul-daul. Perubahan ini terlihat dari penambahan berbagai alat musik seperti gendang, jidur sebagai penghasil bass, hingga gong dan suling. Perpaduan alat tradisional dan modern ini membuat pertunjukan Musik Tong-tong terasa lebih hidup dan menarik untuk dinikmati.

Tidak hanya dari segi suara, tampilannya juga ikut berkembang. Alat musik dihias dengan ornamen khas Madura yang penuh warna dan dilengkapi lampu-lampu yang mencolok, lalu ditampilkan di atas kereta hias. Sekarang, Musik Tong-tong tidak lagi hanya hadir saat Ramadhan, tetapi juga sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti pernikahan, perayaan, dan kegiatan lainnya, serta menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Madura.

Ciri Khas Musik Tong-Tong Sumenep

Salah satu ciri khas utama Musik Tong-tong Sumenep terlihat dari pola ritmenya yang cepat dan berenergi, sehingga mampu menciptakan suasana yang meriah. Permainan musik dilakukan secara berkelompok dengan kekompakan yang tinggi, di mana setiap alat saling melengkapi untuk membentuk irama yang khas. Pola pukulan yang teratur namun tetap variatif membuat Musik Tong-tong mudah dikenali dan memiliki karakter yang berbeda dibandingkan musik tradisional lainnya.

Selain dari segi suara, keunikan Musik Tong-tong juga tampak pada tampilan pertunjukannya yang menarik. Alat musik biasanya dihias dengan ornamen khas Madura, serta dilengkapi lampu yang menambah kesan meriah, terutama saat dimainkan pada malam hari. Pertunjukan ini umumnya ditampilkan di atas kereta hias dengan jumlah pemain yang cukup banyak dan sering dilengkapi penari sebagai pendukung, sehingga tidak hanya enak didengar, tetapi juga menarik untuk disaksikan.

Lahirnya Festival Musik Tong-Tong

Seiring berkembangnya Musik Tong-tong di masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sumenep mulai mengemas kesenian ini dalam bentuk festival sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah. Hal ini dilakukan karena Musik Tong-tong dinilai memiliki nilai tradisi yang kuat sekaligus potensi besar sebagai daya tarik wisata.

Festival Musik Tong-tong sendiri kini dikenal sebagai salah satu agenda budaya di Sumenep yang biasanya digelar pada momen tertentu, seperti perayaan hari jadi kabupaten Sumenep sejak tahun 2013. Dalam pelaksanaannya, berbagai kelompok Musik Tong-tong turut berpartisipasi dengan menampilkan kreativitas masing-masing, baik dari segi aransemen musik, kostum, maupun kereta hias. Keberadaan festival ini berperan penting dalam menjaga eksistensi sekaligus memperkenalkan Musik Tong-tong kepada masyarakat yang lebih luas.

Tantangan dan Upaya Pelestarian

Di tengah perkembangan zaman, kesenian tradisional seperti Musik Tong-tong Sumenep menghadapi berbagai tantangan. Pengaruh budaya modern dan perubahan gaya hidup membuat minat terhadap kesenian tradisional cenderung menurun, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini membuat keberlangsungan tradisi mulai bergantung pada seberapa besar kepedulian masyarakat dalam menjaganya.

Selain itu, terjadi pula pergeseran fungsi dari Musik Tong-tong yang awalnya memiliki nilai tradisi dan sosial, menjadi lebih berorientasi pada hiburan. Perubahan ini tidak sepenuhnya negatif, namun berpotensi mengurangi makna asli dari kesenian tersebut. Jika tidak diimbangi dengan pemahaman budaya yang baik, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa perlahan memudar.

Sebagai upaya pelestarian, berbagai langkah terus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Penyelenggaraan festival budaya menjadi salah satu cara untuk menjaga eksistensi sekaligus menarik minat generasi muda. Selain itu, pelestarian juga dilakukan melalui kegiatan komunitas, pembinaan kelompok seni, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Dengan upaya tersebut, Musik Tong-tong diharapkan tetap dikenal dan terus berkembang di tengah perubahan zaman.

Perjalanan Musik Tong-tong dari tradisi sahur hingga menjadi festival tahunan membuktikan bahwa budaya lokal bisa terus berkembang mengikuti zaman. Dengan adanya dukungan dari masyarakat dan berbagai upaya pelestarian, kesenian ini diharapkan tetap bertahan dan dikenal oleh generasi selanjutnya. Tidak hanya sebagai hiburan, Musik Tong-tong juga menjadi salah satu identitas budaya yang patut dijaga.