Kembali

News

Harga Pertamax Berpeluang Turun, Pemerintah Sebut Penurunan Harga Minyak Dunia Jadi Faktor Utama

Pemerintah membuka peluang penurunan harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya seiring melemahnya harga minyak dunia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kondisi tersebut dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi beban masyarakat. Namun, pemerintah belum memastikan waktu penyesuaian harga karena masih mempertimbangkan formula harga berdasarkan perkembangan pasar energi global.

Admin Madura FM 22 Jun 2026 - 2 menit baca
Harga Pertamax Berpeluang Turun, Pemerintah Sebut Penurunan Harga Minyak Dunia Jadi Faktor Utama
Artikel pilihan redaksi On Air
News Madura FM 102.1

Pemerintah membuka peluang penurunan harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya seiring melemahnya harga minyak dunia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kondisi tersebut dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi beban masyarakat. Namun, pemerintah belum memastikan waktu penyesuaian harga karena masih mempertimbangkan formula harga berdasarkan perkembangan pasar energi global.

MADURA FM - Kabar baik berpotensi menghampiri pengguna bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dalam waktu dekat. Pemerintah membuka peluang penurunan harga Pertamax menyusul tren melemahnya harga minyak mentah dunia dalam beberapa hari terakhir.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan optimisme tersebut saat membahas perkembangan ekonomi nasional. Menurutnya, penurunan harga minyak global dapat memberikan ruang bagi penyesuaian harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green 95.

"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI, Senin (22/6).

Pernyataan tersebut menjadi perhatian publik karena baru beberapa pekan lalu harga Pertamax mengalami kenaikan cukup signifikan. Per 10 Juni 2026, harga Pertamax RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan itu dipicu lonjakan harga minyak dunia yang terjadi akibat ketidakpastian geopolitik global.

Kini situasinya mulai berubah. Harga minyak mentah dunia tercatat mengalami koreksi setelah muncul perkembangan positif terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut dinilai dapat meredakan tekanan pada pasar energi internasional yang sebelumnya mendorong kenaikan harga BBM di berbagai negara.

Purbaya mengakui fluktuasi harga minyak global masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan pasar energi untuk memastikan dampaknya terhadap masyarakat dan dunia usaha dapat diminimalkan.

Dari sisi kebijakan, pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi memang mengikuti dinamika harga minyak dunia. Mekanisme tersebut berbeda dengan BBM subsidi yang masih mendapatkan perlindungan melalui kebijakan pemerintah.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebelumnya menjelaskan bahwa Pertamax merupakan produk BBM nonsubsidi sehingga penyesuaian harga dilakukan berdasarkan perkembangan harga energi global. Karena itu, ketika harga minyak mentah naik, harga jual BBM berpotensi meningkat. Sebaliknya, saat harga minyak dunia melemah, peluang penurunan harga juga terbuka.

Meski demikian, pemerintah belum memastikan kapan penyesuaian harga Pertamax akan dilakukan. Keputusan tersebut tetap akan mempertimbangkan formula harga yang berlaku, termasuk rata-rata harga minyak mentah dan produk olahan di pasar internasional dalam periode tertentu.

Analis menilai sinyal yang disampaikan Purbaya dapat menjadi angin segar bagi masyarakat, terutama pengguna kendaraan pribadi yang dalam beberapa pekan terakhir harus menanggung kenaikan biaya bahan bakar akibat lonjakan harga Pertamax. Jika tren penurunan minyak dunia berlanjut, maka beban pengeluaran masyarakat berpotensi berkurang dan dapat memberikan dorongan tambahan bagi daya beli domestik.