News
Warga Pamekasan Mengeluh, Harga Telur Melonjak dan Pertalite Sulit Didapat
Warga Pamekasan mengeluhkan kenaikan harga telur ayam dari Rp25–26 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram serta sulitnya memperoleh Pertalite di sejumlah SPBU. Masyarakat berharap pemerintah segera menstabilkan harga kebutuhan pokok dan memastikan distribusi BBM subsidi berjalan lancar. Sementara itu, Disperindag Pamekasan masih melakukan pengecekan data harga di lapangan.
Warga Pamekasan mengeluhkan kenaikan harga telur ayam dari Rp25–26 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram serta sulitnya memperoleh Pertalite di sejumlah SPBU. Masyarakat berharap pemerintah segera menstabilkan harga kebutuhan pokok dan memastikan distribusi BBM subsidi berjalan lancar. Sementara itu, Disperindag Pamekasan masih melakukan pengecekan data harga di lapangan.
MADURA FM - Masyarakat di Kabupaten Pamekasan menghadapi tekanan ganda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah naiknya harga sejumlah bahan pokok, warga juga mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM subsidi jenis Pertalite di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Kondisi tersebut dirasakan warga Kecamatan Tlanakan. Salah seorang warga, Supiah, mengaku pengeluaran rumah tangganya meningkat setelah harga telur ayam di tingkat pengecer mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp28 ribu per kilogram. Kenaikan itu dinilai terjadi secara mendadak tanpa adanya informasi yang diterima masyarakat.
“Saya beli awalnya Rp25.000 sampai Rp26.000, sekarang sudah Rp28.000 per kilonya. Saya kira telur itu tidak naik, soalnya tidak ada informasi kenaikan harga, tiba-tiba saja langsung Rp28.000,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Supiah mengaku tidak mengetahui penyebab pasti lonjakan harga tersebut. Ia mempertanyakan apakah kenaikan itu merupakan kebijakan resmi atau hanya terjadi di tingkat pedagang.
Selain harga pangan yang meningkat, ia juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan Pertalite. Bahkan, dirinya mengaku beberapa kali mendatangi SPBU, namun harus pulang tanpa membawa BBM karena stok telah habis.
“Semuanya naik, pertalite juga susah. Saya balik dua kali ke pom bensin SPBU, habis,” katanya.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap adanya langkah cepat dari pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus memastikan distribusi BBM subsidi berjalan lancar.
Supiah berharap pemerintah dapat memberikan kepastian mengenai kondisi pasar sehingga masyarakat tidak terus dibayangi ketidakpastian harga maupun kelangkaan BBM.
“Saya berharap semuanya akan kembali baik seperti semula, agar kami bisa menghitung pengeluaran seperti biasa,” tuturnya.
Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, Abdurrahman Nahrul, mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan terhadap data hasil pemantauan harga di lapangan sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut.
“Datanya akan diperiksa besok, biar dilihat dari harga hasil pantauan di lapangan,” ujarnya.
Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan evaluasi terhadap perkembangan harga bahan pokok dan distribusi BBM bersubsidi agar gejolak yang dirasakan masyarakat tidak berlangsung dalam waktu lama.