News
Keluarga Kenang Sumarna sebagai Ayah Penyayang, Berharap Misteri Kematian Satpam Waduk Jatiluhur Segera Terungkap
Keluarga mengenang Sumarna (42), satpam PJT II Waduk Jatiluhur, sebagai ayah penyayang dan bertanggung jawab. Mereka berharap polisi segera mengungkap penyebab kematiannya yang masih diselidiki. Sumarna ditemukan meninggal dengan tangan terborgol pada 24 Juli 2026, sementara penyidik terus memeriksa saksi dan mengumpulkan alat bukti.
Keluarga mengenang Sumarna (42), satpam PJT II Waduk Jatiluhur, sebagai ayah penyayang dan bertanggung jawab. Mereka berharap polisi segera mengungkap penyebab kematiannya yang masih diselidiki. Sumarna ditemukan meninggal dengan tangan terborgol pada 24 Juli 2026, sementara penyidik terus memeriksa saksi dan mengumpulkan alat bukti.
MADURA FM – Duka masih menyelimuti keluarga Sumarna (42), petugas keamanan Perum Jasa Tirta (PJT) II yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Di balik proses penyelidikan yang masih berlangsung, keluarga memilih mengenang almarhum sebagai sosok ayah yang bertanggung jawab dan selalu mengutamakan keluarganya.
Putra sulung korban, Gerald Surya Pratama (17), mengaku memiliki banyak kenangan bersama sang ayah. Meski bekerja dengan jadwal yang padat, Sumarna tetap berusaha meluangkan waktu untuk mendampingi kedua anaknya.
"Kalau sama bapak itu ya sering ngobrol, nonton bola bareng. Kalau ada waktu juga suka jalan-jalan sama saya dan adik," ujar Gerald di rumah duka.
Bagi Gerald, perhatian sang ayah tidak hanya terlihat saat berkumpul di rumah. Ia mengatakan Sumarna hampir setiap hari mengantarkannya ke sekolah, sebuah kebiasaan sederhana yang kini menjadi kenangan paling berharga.
"Saya dekat banget sama bapak. Dulu sering diantar sekolah juga sama beliau," katanya.
Gerald juga masih mengingat perjalanan keluarga ke Masjid Al Jabbar di Bandung. Meski belakangan aktivitas masing-masing membuat mereka jarang bepergian bersama, almarhum tetap berupaya menciptakan waktu berkualitas bersama keluarga.
Di tengah kehilangan yang masih dirasakan, Gerald mengaku belum memikirkan tawaran bekerja di Perum Jasa Tirta II. Saat ini, ia memilih fokus menyelesaikan pendidikan di bangku kelas XII SMK.
"Sekarang saya masih fokus sekolah dulu. Soal itu belum kepikiran," ucapnya.
Selain mengenang sosok ayahnya, Gerald berharap aparat penegak hukum segera mengungkap penyebab kematian Sumarna sehingga keluarga memperoleh kepastian hukum.
"Semoga bapak tenang di sana dan menjadi ahli surga. Saya juga berharap kasus ini cepat terungkap supaya tahu siapa pelakunya," tuturnya.
1. Dikenal Bertanggung Jawab dan Aktif di Lingkungan
Kesaksian serupa datang dari pihak keluarga besar. Kakak ipar korban, Usep (53), menyebut Sumarna merupakan pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap keluarga maupun lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut Usep, almarhum selalu menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, termasuk rutin mengantar anaknya ke sekolah sebelum menjalankan aktivitas bekerja.
"Salah satu contoh ia tanggung jawab ke anak dan istri, ia rutin mengantarkan anaknya sekolah," kata Usep.
Di lingkungan tempat tinggalnya di Desa Kembang Kuning, Sumarna juga dikenal aktif sebagai anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas). Selain bertugas sebagai petugas keamanan di kawasan objek vital nasional Waduk Jatiluhur, ia dipercaya masyarakat karena dinilai memiliki dedikasi tinggi.
"Setahu saya almarhum orang baik. Selain satpam PJT II, dia juga Linmas desa. Ada kepercayaan besar dari pihak perusahaan maupun pemerintah desa," ujarnya.
Meski demikian, keluarga memilih tidak berspekulasi mengenai penyebab kematian korban yang ditemukan dalam kondisi kedua tangan terborgol. Mereka menyerahkan sepenuhnya proses pengungkapan kasus kepada kepolisian.
"Kami percayakan kepada pihak berwajib. Harapan keluarga hanya satu, semoga kasus ini cepat terungkap," tegas Usep.
2. Istri Ungkap Pertemuan Terakhir
Sementara itu, istri korban, Siti Maryam, masih mengingat pertemuan terakhir dengan suaminya sebelum berangkat bekerja pada Kamis (23/7/2026) malam. Menurutnya, tidak ada firasat khusus, meski kondisi suaminya terlihat lebih lelah dibanding biasanya.
Maryam mengatakan, setiap malam Jumat almarhum biasanya mengikuti kegiatan Yasinan sebelum bertugas. Namun pada malam terakhir, kebiasaan tersebut tidak dilakukan dan Sumarna memilih berangkat lebih awal ke tempat kerja.
"Kelihatannya memang seperti kelelahan. Biasanya kalau malam Jumat berangkat lebih sore karena ikut Yasinan dulu, tapi malam itu berangkatnya lebih awal dan tidak ikut rutinan," ungkap Maryam.
Meski demikian, almarhum tetap berpamitan kepada keluarga serta berdoa sebelum menjalankan tugas, sebagaimana kebiasaan yang selalu dilakukan.
Kini, keluarga hanya berharap penyelidikan segera menemukan titik terang agar penyebab kematian Sumarna dapat terungkap secara jelas.
Diketahui, Sumarna ditemukan meninggal dunia di kawasan Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026). Korban ditemukan masih mengenakan seragam dinas dengan kondisi kedua tangan terborgol. Hingga kini, Satreskrim Polres Purwakarta masih melakukan penyelidikan melalui pemeriksaan sejumlah saksi dan pengumpulan alat bukti guna mengungkap secara utuh peristiwa yang menyebabkan meninggalnya petugas keamanan tersebut.